Dampak Pandemi Covid-19
𝐃𝐀𝐌𝐏𝐀𝐊 𝐏𝐀𝐍𝐃𝐄𝐌𝐈 𝐂𝐎𝐕𝐈𝐃-𝟏𝟗 𝐏𝐀𝐃𝐀 𝐏𝐄𝐍𝐃𝐈𝐃𝐈𝐊𝐀𝐍
1. Banyak anak tak sekolah akibat pandemi
Menurut Yusra Tebe, Konsultan Nasional Pendidikan dalam Situasi Darurat, UNICEF-RDI, "Saat ini lebih dari 60 juta siswa di Indonesia tak bisa bersekolah akibat Covid-19. Dari jumlah tersebut, angka terbanyak berasal dari pelajar SD atau sederajat dengan total lebih dari 28 juta siswa, disusul pelajar SMP atau sederajat dengan 13 juta siswa, dan SMA atau sederajat 11 juta siswa,"
Berdasarkan data tersebut, masih banyak siswa yang tak bisa belajar jarak jauh. Hal ini karena beberapa daerah masih terkendala akses listrik, akses internet, dan pembelajaran luring (offline) masih terbatas.
Masalah yang muncul saat proses pebelajaran dari rumah ini disimpulkan dari hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh UNICEF lewat U-Report 5–8 Juni 2020 dengan jumlah responden sebanyak 4.016 orang dalam rentang usia utama 14–24 tahun.
"Jadi, sebanyak 69% anak merasa bosan selama Belajar Dari Rumah (BDR), dengan tantangan utama akses internet sebesar 35% dan 38% kurang bimbingan dari guru. Kemudian, sebanyak 62% responden berharap dukungan utama yang diberikan adalah akses internet dan 26% lainnya dukungan dari guru," jelas Yusra.
2. Dampak pada anak secara umum
Yusra melanjutkan, ada beberapa dampak yang muncul pada anak akibat proses belajar dari rumah ini. Terutama pada kondisi kesehatan, di mana anak-anak berisiko terpapar Covid-19 sehingga menyebabkan sakit atau bahkan kematian.
"Kemudian pada hal pendidikan, anak juga berpotensi kehilangan kesempatan pendidikan karena kurangnya akses listrik maupun internet. Yang mana akan disusul dengan menurunya kualitas pendidikan juga," kata Yusra.
Dengan dilaksanakannya pembelajaran dari rumah, anak pun kekurangan ruang untuk berinteraksi sehingga tak dapat bersosialiasi. Selain itu, dari segi psikososial juga terpengaruh.
"Anak bisa merasa bosan, mungkin juga mudah stres sehingga kesehatan mentalnya terganggu, semangatnya menurun, dan kemampuan belajarnya pun ikut menurun," jelasnya.
Dampak yang dipaparkan tersebut perlu menjadi perhatian seluruh pihak agar anak-anak usia sekolah terpenuhi segala haknya di bidang pendidikan
3. Perlu perbaikan kurikulum karena situasi
Salah satu cara yang mungkin dapat dijadikan sebagai pilihan perbaikan adalah pengadaan kurikulum darurat. Seperti yang dikatakan oleh Fahriza Marta Tanjung, Wasekjen Federasi Serikat Guru Indonesia, "Perlu adanya kurikulum darurat atau penyederhanaan kurikulum karena situasi di lapangan saat ini kan berbeda dari keadaan normal biasanya."
Ia menambahkan, kurikulum darurat sangat penting dipersiapkan karena situasi yang serba terbatas akibat pandemi. "Jadi, sebaiknya pembelajarannya dikelompokkan menjadi literasi, numerasi, sains, pendidikan kecakapan hidup, dan pendidikan karakter," jelasnya.
Selain itu, sesi pembelajaran di rumah yang dilaksanakan melalui TV juga sebaiknya ditambah. "Mungkin perlu diperbaiki, misalnya kelas 1 SD satu sesi, kelas 2 SD satu sesi, dan seterusnya. Namun, pasti akan menambah jam penyiaran sehingga mungkin perlu penambahan stasiun TV lain sebagai pendukung," katanya.
𝐃𝐀𝐌𝐏𝐀𝐊 𝐏𝐀𝐍𝐃𝐄𝐌𝐈 𝐂𝐎𝐕𝐈𝐃-𝟏𝟗 𝐏𝐀𝐃𝐀 𝐄𝐊𝐎𝐍𝐎𝐌𝐈 𝐊𝐄𝐋𝐔𝐀𝐑𝐆𝐀
 |
| Sebelum ppkm |
 |
Setelah ppkm
|
𝐃𝐚𝐦𝐩𝐚𝐤 𝐧𝐞𝐠𝐚𝐭𝐢𝐟 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐩𝐚𝐧𝐝𝐞𝐦𝐢 𝐜𝐨𝐯𝐢𝐝-𝟏𝟗 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐞𝐤𝐨𝐧𝐨𝐦𝐢 𝐤𝐞𝐥𝐮𝐚𝐫𝐠𝐚:
1. Harga barang naik terutama masker, sanitizer, pengukur suhu hingga obat dan sereh
2. Daya beli turun, hutang meroket
3. Omset bisnis banyak menurun, pendapatan menurun
4. Tidak bisa bayar cicilan ke dealer tepat waktu
5. Biaya sekolah dan kuliah bertambah untuk menunjang belajar dengan teknologi.
𝐇𝐚𝐫𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐬𝐞𝐭𝐞𝐥𝐚𝐡 𝐩𝐚𝐧𝐝𝐞𝐦𝐢 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫:
Saya ingin sekolah seperti pada umumnya tanpa memakai masker,ingin mendapatkan pembelajaran yang efektif dari guru,karena jika dengan daring pembelajaran sulit untuk dipahami
Komentar
Posting Komentar